Kamis, 19 April 2012

Peluang Bisnis 100% Gratis BEBAS RESIKO Kerjanya Mudah

Hai bro semua, :)
Udah pada tahu dong kalau sekarang ada banyak sekali cara untuk bisa mencari uang melalui internet. Ada yang berbayar, ada yang gratis. Kalau saya, tentu lebih suka yang gratisan, hehe :D
Terkait dengan hal itu,.. Nah... Barusan saya browsing dan menemukan sebuah situs bisnis yang menarik. Namanya gajigratis.Com.
Kenapa menarik? Alasannya adalah karena untuk join (bergabung) di situs tersebut biayanya Rp 0 saja, alias gratis.
Eits, tapi walaupun gratis, ini bukan berarti bahwa hasilnya juga "gratis". Bahkan hasilnya hasil yang "mahal" karena situs itu memberikan bayaran hingga Rp. 277.777.778.500,- untuk member-membernya wow hasil yang fantastis bro.
Cara kerjanya cukup mudah, kita hanya diperintahkan untuk menawarkan orang lain datang ke URL tertentu. Setiap kali orang lain bergabung dengan situs yang dituju, kita akan mendapat bayaran Komisi Jaringan Rp 25 hingga 10 level Komisi Sponsor Rp. 100,- hingga 10 level Semakin banyak kita menyebar URL-nya, semakin banyak juga komisi yang kita dapat.
Penasaran kan? Ingin join kan? Ingin tahu gimana cara kerjanya?
Ok, silakan langsung join di ==> http://gajigratis.com/?ref=Fauzi33
BTW, di dalam member areanya ada banyak tawaran bonus ebook gratis lho... bakal rugi kalau enggak join & gak ngikutin penawaran bonus-bonusnya, :)
Masih belum join? Ya ampuun... ^_^"
Langsung join di sini! ==> http://gajigratis.com/?ref=Fauzi33
Ok thx ya bro smua di tunggu join nya

Minggu, 05 Februari 2012

Masih Ada

I Hate Monday. Selalu istilah itu yang aku dengar begitu memulai aktivitas di awal minggu. Mungkin karena pengaruh libur apalagi long weekend, maka yang jadi sasaran kebencian adalah hari senin. Tapi kucoba menepis anggapan itu seperti halnya hari ini.
Seperti biasa pagi-pagi aku berangkat ke tempat aktivitas rutinku. Seperti biasanya juga tidak ada hal yang spesial selama perjalanan menuju ke sana, yang ada hanya lalu lalang kendaraan yang berpacu menuju tempatnya masing-masing. Ada yang enjoy dan ada juga yang buru-buru sehingga seperti kesetanan saja. Polisi hanya ada di beberapa titik persimpangan, sedangkan yang lainnya entahlah.
Kira-kira satu Km menuju tempat kerjaku, aku melihat seorang pelajar berpakaian abu2 dan berjaket cokelat (kalau tidak salah) sedang berjalan kaki. Perlahan kuamati melalui kaca spion, sepertinya ini siswaku, lantas aku berhenti. Begitu dia dekat denganku dia tidak sadar bahwa aku sedang menunggunya. Lantas langsung kusapa dia. "Bahrun, mau ke sekolah?" tanyaku dengan pasti. Dengan wajah yang kaget dia menoleh," Eh, iya Buk". "Ayo naik," ajakku langsung.
Maka diapun langsung duduk di belakangku. "Kok jalan kaki?" tanyaku penasaran.
"Iya Buk, sepedanya lagi rusak," jawabnya ringkas tanpa mau menjelaskannya.
"Apanya yang rusak?"
"Banyak Buk, udah gak bisa lagi dibawa".
"Gak dibawa ke bengkel?" tanyaku lagi.
"Gak Buk. Kalau dibawa kan harus ada uang buat upahnya. Belum lagi kalau ada yang diganti," jawabnya dengan sedikit memelas. Mendengar jawabannya itu hatiku jadi miris. Duhh.....sampai segitukah sehingga kendaraan yang menjadi andalannya ke sekolah terpaksa "cuti" dulu di rumah..
"Sejak kapan  jalan kaki ke sekolah?"
"Sejak tanggal 10 kemaren Buk."
Ngghaaa.....pikirku. Jadi sudah 10 hari lebih dia berjalan kaki ke sekolah yang berjarak kurang lebih 4-5 kiloan. Itupun kalau pulang juga harus terpaksa jalan kaki lagi di tengah terik panas matahari. Menurut siswa yang ramah ini jika ada teman yang bisa ditumpangi dia tidak perlu jalan kaki lagi. Tapi jika tidak, mungkin tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak berjalan kaki menuju pulang.
"Trus, jam brpa berangkat dari rumah?" kembali aku mulai bertanya.
"Jam setengah tujuh Buk. Kalau telat sdikit aja nanti di sekolah juga telat," paparnya.
Berarti kurang lebih satu jam dia berjalan kaki menuju sekolah dengan harapan tidak terlambat ke sekolah. Apakah dia tidak letih setibanya di sekolah? Apakah dia tidak mengantuk saat sedang belajar? Apakah.......Berbagai pertanyaan muncul di benakku.
Sebenarnya aku ingin bertanya lagi, kenapa dia tidak naik mobil angkot saja ke sekolah. Tapi urung ku ucapkan, karena aku pikir mungkin ini masih berkaitan dengan uang. Mungkin saja jika uang jajan dijadikan sebagai ongkos angkot tak seberapa lagi uang jajan yang bisa dia manfaatkan di sekolah. Atau....entahlah mungkin ada alasan lain yang membuat dia lebih memilih berjalan kaki ke sekolah.
Padahal aku tidak begitu kenal dekat dengan siswa ini karena sehari-harinya aku tidak pernah memberikan pembelajaran di kelasnya. Tapi karena kesantunannya, keramahannya, dan aktif juga di kegiatan sekolah dia menjadi familiar di kalangan guru.
Dari kisah yang kuperoleh langsung dari siswaku ini, aku jadi berpikir...kenapa kita masih berpikiran  I Hate Monday? Atau hari-hari lainnya.. Sebenarnya dengan kisah Bahrun ini bisa saja dia berpikir "I Hate My Life", tapi toh dia tetap dengan langkah semangat menuju ke sekolah, karena dia yakin di setiap langkahnya ada doa yang teriring dari orang tuanya untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah.
Buat siswa-siswaku, mudah2an ini bisa menjadi motivasi  bagi kalian untuk lebih mensyukuri dengan apa yang kalian miliki, mulai dari perlengkapan sekolah, uang jajan, HP dan kendaraan ke sekolah, serta fasilitas lainnya.
Buat saudara-saudaraku....Ini hanya sekelumit kisah di lingkungan sekolah tempatku mendidik. Masih ada kisah lainnya yang menyentuh hati kita jika ku urai satu persatu.
Buat Bahrun...trima kasih ya...pengalaman hari ini membuat ibuk untuk belajar tidak mengeluh dengan apa yang tidak atau belum ibuk miliki.

Kangen

Di FB pertama kali kita kenal.
Disini tempat pertama kali ku dan kamu bertemu dan di daerah ini juga pertama kali ku dan kamu jalan bersama.
Banyak kenangan kita disini.
Tapi sayang, kamu telah pergi untuk melanjutkan study mu dan menggapai cita - citamu.
Entah kapan ku bisa bertmu dan pergi jalan bareng denganmu.
Ku kangen dengan masa - masa itu bersmamu, walaw pun tak mungkin hal itu terjadi.
Karna dirimu telah ada yang memiliki.
Meski dirimu telah ada yang memiliki, tapi ku tak bisa ngilagin rasa itu dalam hati ku.
Karna rasa itu kan tetap abadi di dalam hati ku selamanya.